Ready to become The Best among The Best

SD PLUS AL-MUHAJIRIN PURWAKARTA

Banner 728x90px

Senin, 04 April 2022

Kelemahan Pesantren Keluarga


Tamid, S.Pd.I

Dari begitu banyaknya pesantren yang ada di Indonesia, kebanyakan pesantren itu merupakan pesantren keluarga. Sebutan itu diberikan karena pada umumnya kebutuhan fisik pesantren adalah milik keluarga. Seperti halnya tanah tempat berdirinya bangunan, pada awalnya biasanya milik keluarga. Setelah berdiri barulah ada orang luar yang mewaqafkan tanahnya untuk kepentingan pesantren. Begitu pula dengan pengelolanya, dari pimpinan pondoknya (Kiyai) dan para ustadz hampir seluruhnya berasal dari kalangan keluarga. Ketika ada bantuan dari pihak lain maka bantuan itu praktis milik keluarga.

Ada segi baiknya jika pesantren menjadi milik keluarga, yaitu keluarga betul-betul memiliki rasa tanggung jawab yang begitu besar terhadap perkembangan pesantren. Selain sisi baiknya tentunya juga ada banyak kekurangan jika pesantren milik keluarga, seperti hal-hal dibawah ini :  


1.      Pesantren keluarga cenderung hanya menyadari kelebihan diri, kurang menyadari kekurangannya.

Hal ini wajar-wajar saja terjadi pada pesantren keluarga. Apalagi bila melihat santrinya bertambah banyak, prestasi meningkat, asrama dan perlengkapannya meningkat, banyak anak dari keluarga orang penting dititipkan di pesantren dan cenderung kepercayaan masyarakat terus meningkat terhadap poendidikan pesantren itu. Dari kesibukan mengurus kemajuan itu seringkali keluarga itu lupa menyadari dan mempelajari segi kekurangannya. Dan bahkan ada kecenderungan menutupi kelemahan dan kekurangannya dengan bergabagai cara.

Ada beberapa hal yang bisa penulis sampaikan disini, untuk mengatasi kelemahan dan kekurangan pesantren keluarga dalam hal ini, diantaranya :

1)      Cobalah mencari kelemahan diri dengan sejujur jujurnya

2)      Mengundang orang luar keluarga yang pakar, professional yang netral untuk menunjukan kelemahan dan kekurangan pesantren. Pakar tersebut merupakan orang-orang yang betul-betul jujur untuk menunjukan kelemahan, kekurangan pesantren.

3)      Membentuk tim penasehat atau konsultan independen yang terdiri dari satu orang ahli agama, satu orang ahli ekonomi, satu orang ahli hukum, satu orang ahli pendidikan dan satu orang ahli bangunan.

4)      Menanamkan karakter jujur, baik untuk pimpinan (kiyai), pengelola pesantren, para ustadz, sehingga semua komponen ini bisa menyampaikan kelebihan dan kekurangan pesantren secara jujur, bukan hanya menyampaikan kelebihan tetapi kekurangan pesantren pun bisa disampaikan dengan sejujur-jujurnya.

2.      Cenderung menutupi kelemahan yang ada

Sesuatu yang wajar, jika pribadi memiliki ego yang besar, begitu juga dengan keluarga cenderung memilki ego untuk mempertahankan prinsipnya. Sifat inilah yang kemudian memunculkan kebiasaan menutupi kelemahan yang ada. Kelemahan yang ditutupi itu barangkali berupa :

1)      Kelemahan pada kelembagaan

2)      Kelemahan pada profesionalisme pejabat dalam lembaga tersebut

3)      Kelemahan program

4)      Kelemahan pada produk

5)      Kelemahan pada integritas pribadi anggota keluarga

6)      Kelemahan pada pertanggung jawaban keuangan

Kelemahan ini ditutupi bersama-sama dengan alasan bila terbuka akan memalukan seluruh anggota keluarga, jadi akhirnya menutupi kelemahan ini menjadi sesuatu yang wajar dan boleh dilakukan.

Barangkali ada beberapa hal yang mungkin berguna untuk mengatasi kelemahan ini, antara lain :

1)      Hilangkan rasa ego keluarga, renungkan kembali ide-ide semula, ide yang diamanatkan pendiri pesantren, sesepuh pesantren.

2)      Mengundang pakar yang netral dan jujur untuk mempelajari kelemahan pesantren, kemudian pakar tersebut menunjukan dengan jujur kelamahan yang ada untuk bisa dicari solusinya.

3)      Tanamkan kepada keluarga rasa takut  kepada Allah, berani bertanggung jawab dan jujur.

3.      Cenderung adanya sifat iri satu anggota kepada anggota keluarga lainnya

Sebetulnya wajar juga, manusiawi, alamiah jika sesorang iri terhadap seseorang yang lainnya. Begitu pula dengan anggota keluarga, satu anggota keluarga iri pada anggota keluarga lainnya. Namun hal ini bisa menjadi sumber keretakan yang akhirnya memicu kemunduran pesantren.

Keirian ini bisa ditimbulkan oleh beberapa sebab, antara lain :

1)      Satu anggota keluarga memperoleh material atau penghormatan (dari dalam atau dari luar) lebih dari satu anggota lainnya. Perolehan ini bisa mengakibatkan satu anggota keluarga lain menafsirkan, kurang fair, kurang proporsional, kurang adil, akhirnya timbulah iri

2)      Satu anggota keluarga  lebih sukses dari anggota keluarga lainnya.

3)      Satu anggota menduduki posisi atau jabatan yang lebih penting daripada anggota keluarga lainnya dalam lembaga pesantren, apalagi jika poisisi itu kurang sesuai dengan kedudukannya dalam keluarga atau kurang sesuai dengan kemampuannya.

Mengatasi kelemahan ini amat sulit karena sangat komplek, pokok pangkal semuanya itu biasanya karena adanya anggapan pesantrem adalah warisan dari sesepuh, warisan itu berupa material(benda), pekerjaan(tugas) dan cita-cita. Celakanya warisan material (benda) dan warisan pekerjaan (tugas) seringkali kedua-duanya menghasilkan materi, posisi dalam masyarakat dan harga diri.

Jalan keluar dari semuanya adalah kembali sungguh-sungguh kepada ajaran agama dan pesan-pesan utama sesepuh. Yang paling penting adalah kembali kepada cita-cita yang diamanatkan. Musyawarah anggota keluarga berdasarkan agama menjadi sangat penting untuk keluar dari semua ini.

Berkenaan dengan hal-hal yang menyangkut material dibutuhkan transparasi, terapkan transparasi dalam keluarga. Dalam hal jabatan atau posisi, terapkan asas profesionalisme, yang terakhir membuka diri dengan memberi kesempatan beberapa anggota dari luar keluarga sebagai pemilik pesantren yang memiliki hak suara sama dengan anggota keluarga. 






0 komentar:

Posting Komentar