SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI SD PLUS AL-MUHAJIRIN PURWAKARTA

Media sosial kami

Silahkan ikuti kami di media sosial.

Penghargaan

SD Plus Al-Muhajirin menerima penghargaan MOST ADMIRED CHAMPIONS dengan kategori "FAVORITE ISLAMIC ELEMENTARY SCHOOL IN QUALITY EDUCATION PROGRAM OF THE YEARS 2021".

Guru dan Staf

Guru dan staf SD Plus Al-Muhajirin.

Bangunan Utama

Guru dan staf SD Plus Al-Muhajirin dengan background bangunan utama.

PERJUSA

Perkemahan Jumat Sabtu, Lokasi Wanakula Camp 2-3 September 2022. "MELALUI KEGIATN PERJUSA, KITA WUJUDKAN PENGGALANG BERKARAKTER, PEDULI, DISIPLIN DAN TERAMPIL"

SELAMAT dan SUKSES

SD Plus Al-Muhajirin mendapat Penghargaan Indonesian School Excellent 2022 di Bandung

Minggu, 31 Oktober 2021

Prestasi Tidak Selalu Nilai Numerik

 

Danish Zufar Abrisam
Sebelah kiri atas

Terjebak dalam stigma nilai numerik.  Ya, rata-rata hampir semua orang selalu terjabak dalam paradigma nilai numerik yang tertera dalam raport. Apalagi bagi orang tua yang selalu menginginkan putra-putrinya memiliki nilai raport dan peringkat terbaik di kelas maupun di sekolahnya. Keinginan dan pandangan seperti itu tidak salah dan tidak juga kita bisa salahkan, karena memang itu juga merupakan kebanggaan bagi orang tua. Namun adakalanya kita selaku orang tua/wali siswa juga terjebak dalam paradigma nilai numerik tersebut. Bagaimana tidak? Dengan hal tersebut mereka semua termasuk kita terbuai  dalam laporan yang berbentuk nilai raport, tanpa kita melakukan visi untuk masa depan peserta didik dalam hal ini adalah anak-anak kita.
 
Pendidikan tersaji dan dilaksanakan pada dasarnya untuk memberikan bekal hidup sehingga putra-putri kita bisa survive dengan kemampuan yang mereka miliki secara praktek. Untuk itu, sebaiknya nilai numerik yang hadir dalam bentuk raport harus disertai dengan kemampuan skill siswa. Kita bisa katakan theory into practice berjalan dengan baik dan ini yang bisa membuat peserta didik bisa survive.
 
Kurikulum yang selalu  mengalami perubahan tentu sudah melakukan serangkaian kajian dan uji coba. Berbagai kebijakan yang timbul seperti contoh tidak adanya peringkat dalam raport tapi siswa terbaik pada bidang tertentu telah membuka dan membelalakkan mata kita bahwa potensi yang dimilki oleh setiap siswa berbeda sehingga setiap peserta didik patut diberikan kesempatan yang sama dan apresiasi sebagai bentuk kesetaraan pendidikan bagi siapa saja yang ada di lingkungan pendidikan Negara Kesatuan Rebuplik Indonesia.
 
Salah satu contoh kemampuan yang dimiliki peserta didik  SD PLUS AL-MUHAJIRIN kelas 6  Imam An-Nasa’I atas nama  Danish Zufar Abrisam yang mampu menorehkan kemampuan dan prestasinya di bidang olahraga sepak bola dengan merebut Juara ke-2 Primajaya Cup tentu membuat bangga Orang Tua dan Sekolah. Dari sini kita bisa belajar dan menghargai kemampuan peserta didik kita dalam hal ini anak-anak kita bahwa mereka masing-masing memiliki potensi kemampuan dan skill yang berbeda. Yang harus kita siapkan sekarang adalah bagaimana minat dan bakatnya bisa terus dalam track proses yang baik dan tepat penangannya sehingga kemampuan, minat dan bakatnya terus tumbuh berkembang hingga professional yang kelak mampu menjadi pegangan hidup untuk survive.
 
Salam Prestasi