SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI SD PLUS AL-MUHAJIRIN PURWAKARTA

Jumat, 04 Februari 2022

Permainan tradisional tak kalah seru dengan game

Seiringnya perkembangan zaman, anak-anak sekarang harus di hadapi dengan perkembangan teknologi, di mulai dari komputer, laptop maupun hand phone. Bahkan sejak adanya pandemik covid 19 ini proses pembelajaran sudah mulai menggunakan gadget. Yang terkadang membuat orang tua merasa pusing dan khawatir karena anak-anak nya jadi ketergantungan gadget karena sekolahnya di rumah.
Alhamdulillah... Setelah ada surat izin untuk sekolah, maka sekolah-sekolah mengadakan pembelajaran Tatap Muka terbatas ini, dengan mematuhi protokol kesehatan. Dalam kegiatan pembelajaran khususnya pelajaran Bahasa Sunda di kelas 3 siswa -siswa dikenalkan dengan " Kaulinan barudak" ( permainan anak-anak tradisional ) seperti ucing Sumput, ucing Puntang, oray-orayan, hompimpah dan lain-lain. 
Semua siswa mempraktekan permainan ini, dimulai dengan menentukan yang jadi kucing yaitu dengan hompipah sambil menyanyikan kawih hompimpa, hompimpa alaiyum gambleng! ada juga yang menentukan dengan cara cingciripit sambil menyanyikan kawih berikut: 

 Cingciripit tulang bajing kacapit 
 kacapit ku bulu pare 
 bulu pare seuseukeutna 
 jol pa dalang 
 mawa wayang jrek jrek nong 

Suasana pembelajaran ini sangat disenangi oleh siswa, karena pembelajaran ini selain belajar bisa juga sambil bermain. Pembelajaran ini bertujuan untuk : 
1. Meningkatkan rasa kebersamaan. 
2. Meningkatkan sikap sportifitas. 
3. Menumbuhkan rasa kemandirian dan kerjasama. 
4. Membuat tubuh menjadi sehat. 
Dengan diadakannya pembelajaran ini di harapkan siswa tidak lagi ketergantungan gadget, karena anak-anak dapat mempraktekannya di lingkungan rumahnya. Kemudian siswa dapat melestarikan permainan-permainan tradisional ini khususnya permainan sunda, supaya permainan ini tidak hilang dengan seiringnya perubahan zaman.

Senyum, sapa, salam dari kelas 3

Siti Nurhasanah S.Pd

2 komentar:

  1. Masya Allah..kereeen... Mudah2an budaya sunda semakin mengakar di kaum milenial dan dapat selalu dilestarikan. Terimakasih bu Guru yang membuat pembelajaran menjadi menyenangkanšŸ„°

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah, walaupun sekarang anak2 termasuk generasi milenial, tetapi tidak akan melupakan budayanya, semoga terus mengakar sampai mereka dewasa nanti.. Terimakasih ibu guru yg sudah mengenalkan budaya daerah kepada anak2.. šŸ„°

    BalasHapus