SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI SD PLUS AL-MUHAJIRIN PURWAKARTA

Media sosial kami

Silahkan ikuti kami di media sosial.

Penghargaan

SD Plus Al-Muhajirin menerima penghargaan MOST ADMIRED CHAMPIONS dengan kategori "FAVORITE ISLAMIC ELEMENTARY SCHOOL IN QUALITY EDUCATION PROGRAM OF THE YEARS 2021".

Guru dan Staf

Guru dan staf SD Plus Al-Muhajirin.

Bangunan Utama

Guru dan staf SD Plus Al-Muhajirin dengan background bangunan utama.

PERJUSA

Perkemahan Jumat Sabtu, Lokasi Wanakula Camp 2-3 September 2022. "MELALUI KEGIATN PERJUSA, KITA WUJUDKAN PENGGALANG BERKARAKTER, PEDULI, DISIPLIN DAN TERAMPIL"

SELAMAT dan SUKSES

SD Plus Al-Muhajirin mendapat Penghargaan Indonesian School Excellent 2022 di Bandung

Kamis, 13 Januari 2022

KRITIK

 





Kritik

Syamsul Bahri, S.Pd

 

Kritik mempunyai lawan kata sanjungan atau pujian. Berbicara kritik, umumnya orang tidak ingin mendengarnya karena hati dan pikiran kita selalu mengaitkan kata kritik ini dengan sebuah makna konotasi negatif. Bahkan saking bencinya terhadap kritik banyak hal yang dilakukan oleh seseorang, diantaranya dengan menuliskan kata “Say no to critics and say yes to compliment”. 

Jika sebuah kritik yang sifatnya membangun dan mampu menyadarkan kita dari terlelapnya sebuah atau bahkan ribuan sanjungan, maka yang patut untuk diapresiasi adalah bukan sanjungan tapi kritikan tersebut karena pada dasarnya telah menyelamatkan dari sebuah kehancuran besar. Beruntunglah bagi mereka yang mampu memimpin dirinya sendiri atau memimpin sebuah institusi atau perusahan dan lain sebagainya yang mampu bangkit dan berhasil memimpin karena kritik membangun  tadi.

Jika kita analogikan kritik itu sebagai sebuah obat yang wajib kita minum, maka  kita tahu bahwa rasa obat itu pahit, tidak enak terkadang membuat perut terasa mual. Tapi sebagaimana maklumi bersama  bahwa obat tersebut mempunyai efek menyembuhkan, pun demikian dengan kritik yang dilontarkan maka kemungkinan itu bisa menyadarkan orang dalam kerterbuaian sanjungan, kebodohan diri, kesombongan diri, kekhilafan diri, dan lain sebagainya. Maka, jika kritik itu tidak membuat orang tersebut berubah atau tidak mempunyai efek sama sekali maka kita akan berasumsi bahwa penyakit tersebut bertambah parah.

Lebih parah dari itu, kritik terkadang membuat seorang pimpinan menjadi berlaku tidak adil terhadap bawahannya, menganggap kritikan yang dibangun oleh bawahannya sebagai bentuk resistensi terhadap kebijakan hingga menganggap provokator atau pembangkang kebijakan, padahal kritik itu untuk didengarkan lalu dipikirkan, dikaji dengan bijak dan dicarikan solusi terbaik. Sebaliknya jika banyak disanjung maka luluh benteng hatinya sekali dipuji terus ingin dipuji hingga menganggap kritik sebagai batu sandungan yang akan menjegal.

Maka dari itu manusia dibekali akhlaq, ilmu, akal fikiran dan hati ini untuk selalu Iqra atau membaca kritik dengan bijak, tidak mengedepankan emosi dan keinginan diri yang membuat semuanya menjadi tak terkendali. Tapi dari semua hal ini, kritikpun harus dipresentasikan atau disajikan dengan bijak, optional bahkan jika mampu solutif.

Apakah anda alergi kritik? . . . Apakah kita semua alergi kritik? . . .